Selasa, 01 Desember 2015

Kasus Tolikara, ternyata menjadikan banyak pihak ikut bicara dan komentar, diikuti dengan rentetan "kipas bara menyala" oleh media cetak, pemberitaan, online. Akibatnya, sudah jelas, muncul"gerakan-gerakan" perlawanan di tempat lain, sebagai upaya balas dendam. Bahkan, ada ormas yang ingin mengirim bala tentaranya ke Tolikoara. Wou uuu Luar Biasa. Sementara itu, tak sedikit tokoh agama yang ikut "tidak menenangkan umat" melainkan sebaliknya, membangun permusuhan melalui kata dan pemberitaan melalui media. Bahkan tak sedikit Tokoh Gereja, maaf maaf saja, saya harus katakan, bersifat munafik dan pecundang; mereka dengan lantang menyalahkan "ini itu," padahal tak tahu masalah. Nah ..! Itu di Tolikara. Bagaimana dengan kejadian yang nyaris sama pada "Selasa 18 Agustus 2015, sekitar pukul 01.00 WIB, Gereja GKPPD Mandumpang Resort Keras, Kecamatan Suro Kabupaten Aceh Singkil, dibakar massa!?" Gereja GKPPD Mandumpang dibangun pada tahun 1958. Pada tahun 1979 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 5 gereja lainnya di Aceh Singkil juga pernah dibakar. Dan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2012 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 19 rumah ibadah lainnya juga disegel oleh Pemerintah Aceh Singkil Kejadian tersebut, belum sehari setelah perayaan 70 tahun Indonesia Merdeka, seakan tak pernah ada dan terjadi; semuanya membisu dan diam. Media cetak, media pemberitaan, media news online, diam dan tak bersuara; tokoh politik, tuli; tokoh-tokoh agama pun sama; mereka tak bersuara. Juga, tokoh-tokoh Gereja, hanya segelintir yang bersuara, itupun pada tingkat lokal. Mengapa bisa seperti itu!? Itulah Indonesia; Indonesia yang telah 70 tahun Merdeka; namun tak sedikit dari elemen bangsa yang telahg tua ini, menunjukan ketidakadilan; mereka tuli dan buta terhadap hal-hal yang terjadi pada kelompok kecil anak bangsa; anak bangsa yang kebetulan dicap sebagai golongan minoritas. Mungkin saja, apa yang terjadi tersebut di Aceh Singkil adalah bagian dari model Pemerintah – Negara yang bisa merusak agama-agama di Nusantara. Masa’ iya!? Kenyataannya memang seperti itu; ada banyak contoh yang terjadi di/pada/dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah – negara justru merusak agama dan hubungan masyarakat atau rakyat yang berbeda agama.
Kasus Tolikara, ternyata menjadikan banyak pihak ikut bicara dan komentar, diikuti dengan rentetan "kipas bara menyala" oleh media cetak, pemberitaan, online. Akibatnya, sudah jelas, muncul"gerakan-gerakan" perlawanan di tempat lain, sebagai upaya balas dendam. Bahkan, ada ormas yang ingin mengirim bala tentaranya ke Tolikoara. Wou uuu Luar Biasa. Sementara itu, tak sedikit tokoh agama yang ikut "tidak menenangkan umat" melainkan sebaliknya, membangun permusuhan melalui kata dan pemberitaan melalui media. Bahkan tak sedikit Tokoh Gereja, maaf maaf saja, saya harus katakan, bersifat munafik dan pecundang; mereka dengan lantang menyalahkan "ini itu," padahal tak tahu masalah. Nah ..! Itu di Tolikara. Bagaimana dengan kejadian yang nyaris sama pada "Selasa 18 Agustus 2015, sekitar pukul 01.00 WIB, Gereja GKPPD Mandumpang Resort Keras, Kecamatan Suro Kabupaten Aceh Singkil, dibakar massa!?" Gereja GKPPD Mandumpang dibangun pada tahun 1958. Pada tahun 1979 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 5 gereja lainnya di Aceh Singkil juga pernah dibakar. Dan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2012 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 19 rumah ibadah lainnya juga disegel oleh Pemerintah Aceh Singkil Kejadian tersebut, belum sehari setelah perayaan 70 tahun Indonesia Merdeka, seakan tak pernah ada dan terjadi; semuanya membisu dan diam. Media cetak, media pemberitaan, media news online, diam dan tak bersuara; tokoh politik, tuli; tokoh-tokoh agama pun sama; mereka tak bersuara. Juga, tokoh-tokoh Gereja, hanya segelintir yang bersuara, itupun pada tingkat lokal. Mengapa bisa seperti itu!? Itulah Indonesia; Indonesia yang telah 70 tahun Merdeka; namun tak sedikit dari elemen bangsa yang telahg tua ini, menunjukan ketidakadilan; mereka tuli dan buta terhadap hal-hal yang terjadi pada kelompok kecil anak bangsa; anak bangsa yang kebetulan dicap sebagai golongan minoritas. Mungkin saja, apa yang terjadi tersebut di Aceh Singkil adalah bagian dari model Pemerintah – Negara yang bisa merusak agama-agama di Nusantara. Masa’ iya!? Kenyataannya memang seperti itu; ada banyak contoh yang terjadi di/pada/dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah – negara justru merusak agama dan hubungan masyarakat atau rakyat yang berbeda agama.

Ya Ampun! Anak SD Ikut Pilkada di Yahukimo

Ya Ampun! Anak SD Ikut Pilkada di Yahukimo : KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Kabupaten Yahukimo...