Ya Ampun! Anak SD Ikut Pilkada di Yahukimo: KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Kabupaten Yahukimo, yang telah berlangsung 9 Desember lalu, diwarnai kecurangan, salah satunya anak-anak diikutsertakan dalam pemungutan suara dalam sistem Noken. “51 distrik di Yahukimo hampir semua sama, secara khusus 25 distrik yang melakukan pemungutan suara pada jam 8 malam melalui PPD dengan menyuruh secara paksa masyakat melakukan pencoblosan dengan dijanjikan uang oleh salah satu kandididat yang bertarung dalam pilkada Yahukimo kepada setiap kelompok masyarakat,” kata salah satu tokoh pemuda di Yahukimo, Benny kepada KabarPapua.co, Rabu (16/12). Menurut Benny, tepat pada 9 Desember proses pemilihan, masyarakat tak lagi melakukan pencoblosan, melainkan menikmati acara bakar batu dan PPD sibuk merampungkan surat suara yang sudah diatur pada hari sebelumnya. “Kami sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak keamanan dan Panwaslu. Kedua lembaga itu, sudah menerima tinggal dorong ke tingkat yang lebih
mikhasuhuniap
NAYUBUSEN
BERBAGI CERITA DARI NEGERI PEDALAMAN PAPUA WENPUT
Jumat, 10 Desember 2021
Selasa, 01 Desember 2015
Kasus Tolikara, ternyata menjadikan banyak pihak ikut bicara dan komentar, diikuti dengan rentetan "kipas bara menyala" oleh media cetak, pemberitaan, online. Akibatnya, sudah jelas, muncul"gerakan-gerakan" perlawanan di tempat lain, sebagai upaya balas dendam. Bahkan, ada ormas yang ingin mengirim bala tentaranya ke Tolikoara.
Wou uuu Luar Biasa.
Sementara itu, tak sedikit tokoh agama yang ikut "tidak menenangkan umat" melainkan sebaliknya, membangun permusuhan melalui kata dan pemberitaan melalui media. Bahkan tak sedikit Tokoh Gereja, maaf maaf saja, saya harus katakan, bersifat munafik dan pecundang; mereka dengan lantang menyalahkan "ini itu," padahal tak tahu masalah. Nah ..! Itu di Tolikara.
Bagaimana dengan kejadian yang nyaris sama pada "Selasa 18 Agustus 2015, sekitar pukul 01.00 WIB, Gereja GKPPD Mandumpang Resort Keras, Kecamatan Suro Kabupaten Aceh Singkil, dibakar massa!?" Gereja GKPPD Mandumpang dibangun pada tahun 1958. Pada tahun 1979 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 5 gereja lainnya di Aceh Singkil juga pernah dibakar. Dan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2012 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 19 rumah ibadah lainnya juga disegel oleh Pemerintah Aceh Singkil Kejadian tersebut, belum sehari setelah perayaan 70 tahun Indonesia Merdeka, seakan tak pernah ada dan terjadi; semuanya membisu dan diam. Media cetak, media pemberitaan, media news online, diam dan tak bersuara; tokoh politik, tuli; tokoh-tokoh agama pun sama; mereka tak bersuara. Juga, tokoh-tokoh Gereja, hanya segelintir yang bersuara, itupun pada tingkat lokal. Mengapa bisa seperti itu!? Itulah Indonesia; Indonesia yang telah 70 tahun Merdeka; namun tak sedikit dari elemen bangsa yang telahg tua ini, menunjukan ketidakadilan; mereka tuli dan buta terhadap hal-hal yang terjadi pada kelompok kecil anak bangsa; anak bangsa yang kebetulan dicap sebagai golongan minoritas.
Mungkin saja, apa yang terjadi tersebut di Aceh Singkil adalah bagian dari model Pemerintah – Negara yang bisa merusak agama-agama di Nusantara.
Masa’ iya!? Kenyataannya memang seperti itu; ada banyak contoh yang terjadi di/pada/dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah – negara justru merusak agama dan hubungan masyarakat atau rakyat yang berbeda agama.
Kasus Tolikara, ternyata menjadikan banyak pihak ikut bicara dan komentar, diikuti dengan rentetan "kipas bara menyala" oleh media cetak, pemberitaan, online. Akibatnya, sudah jelas, muncul"gerakan-gerakan" perlawanan di tempat lain, sebagai upaya balas dendam. Bahkan, ada ormas yang ingin mengirim bala tentaranya ke Tolikoara.
Wou uuu Luar Biasa.
Sementara itu, tak sedikit tokoh agama yang ikut "tidak menenangkan umat" melainkan sebaliknya, membangun permusuhan melalui kata dan pemberitaan melalui media. Bahkan tak sedikit Tokoh Gereja, maaf maaf saja, saya harus katakan, bersifat munafik dan pecundang; mereka dengan lantang menyalahkan "ini itu," padahal tak tahu masalah. Nah ..! Itu di Tolikara.
Bagaimana dengan kejadian yang nyaris sama pada "Selasa 18 Agustus 2015, sekitar pukul 01.00 WIB, Gereja GKPPD Mandumpang Resort Keras, Kecamatan Suro Kabupaten Aceh Singkil, dibakar massa!?" Gereja GKPPD Mandumpang dibangun pada tahun 1958. Pada tahun 1979 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 5 gereja lainnya di Aceh Singkil juga pernah dibakar. Dan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2012 gereja GKPPD Mandumpang bersama dengan 19 rumah ibadah lainnya juga disegel oleh Pemerintah Aceh Singkil Kejadian tersebut, belum sehari setelah perayaan 70 tahun Indonesia Merdeka, seakan tak pernah ada dan terjadi; semuanya membisu dan diam. Media cetak, media pemberitaan, media news online, diam dan tak bersuara; tokoh politik, tuli; tokoh-tokoh agama pun sama; mereka tak bersuara. Juga, tokoh-tokoh Gereja, hanya segelintir yang bersuara, itupun pada tingkat lokal. Mengapa bisa seperti itu!? Itulah Indonesia; Indonesia yang telah 70 tahun Merdeka; namun tak sedikit dari elemen bangsa yang telahg tua ini, menunjukan ketidakadilan; mereka tuli dan buta terhadap hal-hal yang terjadi pada kelompok kecil anak bangsa; anak bangsa yang kebetulan dicap sebagai golongan minoritas.
Mungkin saja, apa yang terjadi tersebut di Aceh Singkil adalah bagian dari model Pemerintah – Negara yang bisa merusak agama-agama di Nusantara.
Masa’ iya!? Kenyataannya memang seperti itu; ada banyak contoh yang terjadi di/pada/dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah – negara justru merusak agama dan hubungan masyarakat atau rakyat yang berbeda agama.
Senin, 13 Juli 2015
Bagaimana Jika Tak Ada Hari Esok
Bagaimana Jika Tak Ada Hari Esok
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir
kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan
lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.
Jadi untuk berjaga – jaga seandainya hari esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan untuk siapapun, baik tua maupun muda. Dan mungkin hari ini akan menjadi kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.
Jadi, bila kau sedang menantikan hari esok, mengapa tak melakukannya sekarang?
Karena jika esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesalinya.
Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, ciuman atau pelukan . Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap eratlah orang – orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Dan jika esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
[Norma Cornett Marek ~ 1989]
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila Aku tahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.
Jadi untuk berjaga – jaga seandainya hari esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan untuk siapapun, baik tua maupun muda. Dan mungkin hari ini akan menjadi kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.
Jadi, bila kau sedang menantikan hari esok, mengapa tak melakukannya sekarang?
Karena jika esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesalinya.
Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, ciuman atau pelukan . Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap eratlah orang – orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Dan jika esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
[Norma Cornett Marek ~ 1989]
Cerita Motivasi kehidupan
ini menceritakan bagaimana pentingnya kasih sayang dalam kebersamaan,
karena kita tidak pernah tahu kapan kita dan orang orang yang kita
sayang akan meninggal dunia. selagi kita masih hidup, luangkan lah
waktu mu untuk orang – orang yang kamu sayangi.
Siput dan Katak
Siput dan Katak
seekor siput selalu memandang sinis kepada seekor katak. Sampai suatu ketika, katak yang merasa risih dan hilang kesabaran akhirnya menghampiri dan bertanya ke siput.Katak : “Hai tuan Siput, apa saya telah melakukan kesalahan, sehingga kamu begitu membenci saya?”
Siput : “Kalian para katak memiliki empat kaki dan kalian bisa melompat sesuka kalian kesana dan kemari, Sedangkan saya harus merangkak di tanah dan membawa cangkang yang berat ini, jadi saya merasa sedih dan iri.”
Katak : “Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami (katak).”
Dan seketika, ada seekor elang besar yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak dimangsa oleh elang.
Cerita Motivasi ini mengajarkan kita untuk menikmati kehidupan, tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain. setiap makhluk punya kelebihan dan kekurangan nya masing masing seperti siput dan katak. siput memang lambat tapi dia punya cangkang yang dapat melindunginya dari pemangsa. dan katak bisa melompat, tapi dia tidak punya cangkang yang dapat melindungi dirinya. keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan. Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki. Hal tersebut akan membawakan lebih banyak rasa syukur dan kebahagiaan bagi kita sendiri.
Rabu, 08 Juli 2015
PAPUA BUKAN INDONESIA
Latar blakang Kebudayaan
Papua.
“masyarakata
papua secara fisik maupun social berbeda dari masyarakat Indonesia di
daerah-daerah lain. Mayoritas orang Indonesia tergolong rumpun Melayu yang
berasal dari Kamboja, maka secara fisik orang papua adalah rumpun Melanesia ras
Negroid di pasifik. Demikian pula secara social orang papua merasa memiliki
pandangan dan cara hidup tersendiri dengan yang sangat berbeda dari mayoritas
Indonesia di lauar papua. Orang papua memiliki otoritas tersendiri yang
bersifat khas dalam mengatur mengembangkan kebutuhan dan penyelesaian masalah
berdasarkan hokum adat yang membebani hak dan kewajiban adat pada para
indivudunya, sehingga sulit untuk bertemu dalam suatu Negara kesatuan, NKRI
seperti sekarang ini”.
Dilihat
dari latar belakang kebudayaan, orang papua adalah rumpun ras etnis Melanesia
yang berada, hudup, berkarya di kawasan pasifik selatan. Kebudayaan, bahasa,
ras, etnis pola hidup tidak sama dengan orang Indonesia yang merupakan ras dan
etnis melayu. Dari letak geografis juga sangat jauh dari letak tempat tinggal
orang-orang Indonesia.
Dr.
gerge janus Aditjondro, mengakui, ”… Kita berbicara tentang suatu propinsi yang
jauh dari pusat. Jauh, bukan saja dalam arti arafiah, yakni dalam arti
geografis atau spatial, melainkan juga “jauh” dalam arti kultur. Artinya,
kultur orang-orang yang nasibnya ditentukan oleh orang-orang di pusat itu
sangat berbeda dengan kultur mereka yang menentukan nasib mereka. Ada cultural
gap (jurang pemisah kultur) yang sangat besar antara para penentu dan mereka
yang ditentukan nasibnya”.
Berdasarkan
dengan ulasan sejarah perjalanan dan kebudayaan orang papua ini, seorang
pemikir muda papua berasal dari papua pedalaman pernah berkomentar: “bahwa jika
dilihat dari sejarah masa lalu bangsa papua yang demikian, orang papua selalu
da terus-menerus bertanya dimana klaim indonesia bahwa NKRI adalah pemilik
kebenaran atas wilayah papua. Ingatlah sebab sesuatu yang dibangun diatas dasar
penipuan tidak akan pernah bertahan lama. Ingatlah apakah Uni Soviet Negara
adikuasa yang memimpin Blok Timur itu bertahan hingga dewasa ini? Ataukah kita
hanya mengenangnya bahwa uni soviet pernah jaya tapi kini tiada. Apakah kerjaan
Romawi kuat itu bertahan hingga dewasa ini? Ataukah saat ini kita hanya mengenangnya
bahwa kerajaan Romawi Kuno itu pernah ada dan berkuasa di bumi. Diatas tanah
papua NKRI bukan harga mati karana sejarah telah membuktikannya dan juga yang
abadi yang selamanya itu adalah milik Tuhan Allah”.
Pemikir
dan intelektual mudah menambahkan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang
mengakui kesalaha masa lalunya dan memberikan dengan tulus dan ikhlas kepada
yang disalahakan atau yang tertindas mengembalikan haknya-haknya, mengembalikan
kehormatannya, mengembalikan wibawahnya, mengangkat harga dirinya maka bangsa
yang besar itu setidaknya dapat memberikan setitik harapan denga masa bangsanya tetapi juga kepada mereka yang
menikmati kebebasan. Contohnya klasik diantara Indonesia dan Blanda, India dan
Inggris, Panama dan USA, pilipina dan USA, Timor Leste dan Indonesia, PNG dan
Australia.